Jumat (5/6) YAGAT melakukan pertemuan awal untuk berkonsolidasi dengan kelompok perempuan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi NTT. Pertemuan ini hadiri oleh 5 kelompok perempuan yang dibentuk oleh DP3A pada tahun 2019. Kelima kelompok ini tersebar di beberapa titik dalam Kota Kupang, yaitu di Alak, Pasir Panjang, Maulafa, dan Kolhua. Pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor DP3A ini menjadi langkah awal bagi YAGAT dalam kemitraan dengan DP3A Prov NTT untuk program pendampingan kelompok perempuan korban kekerasan, perempuan migran dan kelompok rentan yang berada di Kota Kupang.

Dokter Tres Ralo, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga DP3A, secara resmi memperkenalkan Yagat kepada kelompok ibu yang hadir dan berharap Yagat dapat mendampingi kelompok-kelompok perempuan yang ada sampai mereka bisa menjadi kelompok mandiri dan kuat secara ekonomi.

YAGAT memulai pendampingan kelompok ibu DP3A dengan pengidentifikasian kelompok dan anggotanya. Kelompok-kelompok perempuan ini memiliki usaha masing-masing di bidang kuliner dan kecantikan. Ibu Nirmala, misalnya, yang menjalankan usaha membuat jagung goreng, dan Ibu Mia yang menjalankan usaha salon dan spa. Beberapa tahun berjalan usaha-usaha rumahan mereka cukup menjanjikan. Namun, ada beberapa kendala yang mereka temukan. Misalnya, peralatan yang rusak atau hilang, kelompok yang terbengkali karena tidak saling percaya. Ditambah lagi dengan dampak pandemi Covid-19, maka lengkaplah kehancuran kelompok. Berbagai persoalan ini menjadi tantangan bagi Yagat dan DP3A Prov. Untuk mendampingi, menguatkan dan mendorong kelompok-kelompom ini agar bisa lebih maju di masa-masa yang akan datang.

17/03/2020

Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Sehati merayakan hari jadinya yang pertama pada hari Minggu (15/03) kemarin di kediaman Ibu Betsy, Desa Usapi Sonbai’, Kabupaten Kupang. Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota kelompok yang berjumlah 42 orang dan non-anggota yang tertarik, aparat desa dan YAGAT sebagai pendamping kelompok.

Melalui acara ini pengurus kelompok melaporkan pertanggungjawaban keuangan kelompok UBSP Sehati kepada seluruh anggota dan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) anggota. Dana SHU adalah dana yang dibagikan kepada seluruh anggota pada akhir tahun buku sebagai imbalan karena telah menggunakan jasa UBSP. Semakin besar pinjaman anggota semakin besar pula SHU-nya. Selama satu tahun berjalan total SHU kelompok Sehati telah mencapai Rp 250.000 dengan pinjaman tertinggi yang disepakati ialah Rp 500.000 per anggota.

Selain agenda laporan pertanggungjawaban dan SHU, panitia juga menyelipkan beberapa acara yang relevan, misalnya dengan memberikan kesempatan bagi pemerintah desa untuk menyampaikan hal-hal terkait dukungan kepada kelompok dari pemerintah desa. Dengan pengakuan tersebut kelompok bisa mendapatkan dukungan berupa kegiatan-kegiatan pelatihan pengolalaan makanan olahan dan souvenir, dan pasar bersama. Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemasukan kelompok, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pemasukan pada rumah tangga anggota.

Kedepannya kelompok UBSP Sehati masih memiliki beberapa pekerjaan rumah. Salah satunya adalah menambah anggota kelompok dan merencanakan usaha produktif untuk pemasukan tambahan kelompok.

Subkategori