18/Desember/2022

Kelompok Pantai Harapan merupakan salah satu kelompok nelayan pesisir di desa Watowara, Kabupaten Flores Timur. Kelompok ini diketuai oleh Thomas Dale Sogen. Kegiatan utama kelompok adalah membudidayakan rumput laut di pantai Gedong. Anggota kelompok berjumlah 20 orang yang terdiri dari 9 orang perempuan dan 11 orang laki-laki.

Kelompok Pantai Harapan didampingi oleh Yayasan Gerbang Alam Timur (YAGAT) sejak tahun 2019 dengan kegiatan utama adalah menanam dan merawat bakau di pinggir pantai. Pada tahun 2022 , melalui YAGAT, kelompok mendapat dukungan pendanaan dari Kedutaan Besar New Zaeland di Jakarta melalui New Zealand Aid untuk kegiatan budidaya rumput laut dan pelestarian bakau.  Peralatan yang dibelanjakan oleh anggota kelompok berupa tali bibit rumput laut, nilon, jaring, pelampung, dan sampan. Tali –tali tersebut lalu dirakit menjadi tempat untuk membudiyakan rumput laut.

Hasil dari kemitraan ini sangat menjanjikan. Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Perikanan turut mendukung kelompok Pantai Harapan lewat penyediaan 2 unit sampan kecil kepada kelompok ini. Bahkan kelompok Pantai Harapan telah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Flores Timur menjadi distributor bibit rumput laut bagi kelompok-kelompok pesisir lainnya di Flores Timur. Hingga saat ini total bibit rumput laut yang telah terdistribusi adalah 35 kg.

Cerita sukses kelompok ini terdengar sampai di kapubaten tetangga, Kabupaten Sikka. Beberapa orang petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka berkunjung ke kelompok dan membeli bibit rumput laut 20 kg dari Pantai Harapan untuk didistribusikan di kelompok nelayan pesisir di Kabupaten Sikka.

Rumput laut yang panen selain dijual segar untuk kebutuh bibit melalui pesanan, juga untuk konsumsi masyarakat di desa tetangga. Sebagian besar hasil rumput laut di keringkan dengan cara dijemur langsung di bawah terik matahari. Mereka membentang jaring di atas pantai berkerikil lalu menebarkan rumput laut, lalu dibiarkan sampai kering. Lamanya pengeringan biasanya 2-3 hari dan kemudian rumput laut kering tersebut lalu dikemas ke dalam karung untuk disimpan.

Berikut grafik penjualan rumput laut yang dibudidayakan oleh kelompok Pantai Harapan Periode Maret 2022 – November 2022.

Sebanyak 50% uang hasil penjualan rumput laut  ini digunakan oleh anggota kelompok untuk membiayai sekolah anak ke perguruan tinggi. Selain itu, 25% anggota kelompok yang menggunakan uang hasil penjualan rumput laut untuk biaya kesehatan serta memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan 25% anggota juga membeli tambah peralatan seperti tali nilon dan pelampung.

Dengan adanya usaha budidaya rumput laut ini anggota kelompok merasa sangat terbantu, karena kebutuhan mendesak dalam keluarga dapat terpenuhi. Asal rajin merawat, hasil pasti berlimpah, tutup Cesil, salah seorang anggota kelompok.

  

Anggota kelompok memanen rumput laut dan menjemurnya untuk dijual.

19/Oktober/2022

Setelah menikmati beberapa kali panen rumput laut yang menguntungkan, petani rumput laut mulai menarik peralatan budidayanya ke darat. Paling tidak sudah 4 kali panen rumput laut dilakukan kelompok Hubung Horang setelah YAGAT memfasilitasi bantuan benih dan peralatan budidaya rumput laut dari Kedutaan Besar New Zealand di Jakarta pada bulan Juli lalu.

Hujan yang datang lebih awal tahun ini membuat petani rumput laut mulai waspada.  Kelompok tani Hubung Horang mulai mengurangi jumlah bibit yang dibudidayakan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan pada bibit akibat terpaan gelombang. Dengan demikian hasil panen pun berkurang. Di saat yang sama harga rumput laut kering pun anjlok ke titik terendah sampai dengan Rp5,000 per kg. Kondisi ini membuat petani menahan diri untuk tidak menjual produk mereka. Saat ini rumput laut kering yang ada disimpan sambil menunggu harga membaik di pasaran. 

Kondisi cuaca sedang tidak bersahabat  untuk usaha budidaya rumput laut saat ini. Hujan yang semakin sering turun serta laut yang mulai bergelombang membuat kelompok tani rumput laut memutuskan untuk menarik semua peralatan budidayanya untuk diungsikan ke darat. Petani rumput laut mulai menggulung dan menyimpan secara baik peralatannya untuk digunakan lagi setelah musim hujan berlalu, paling tidak hingga bulan Maret tahun 2023. Dengan demikian aktivitas di laut untuk sementara dihentikan. 

Kelompok tani rumput laut bergeser ke darat untuk mengolah lahan, membersihkan dan menanami kebun dengan tanaman pangan dan sayur-sayuran.

Anggota kelompok sedang mengumpulkan sisa rumput laut sebelum menarik semua pelengkapan budidaya rumput laut ke darat untuk diamankan.

5/September/2022

Setelah sukses panen pertama pada Juli lalu, kelompok tani rumput laut Hubung Horang melakukan panen rumput laut tahap ketiga pada bulan September. Hasil panen kali ini mencapai 600 kg, atau mengalami penurun sebesar 100 kg dibanding masa panen pertama. Kali ini panen rumput laut dilakukan secara serentak oleh masing-masing anggota di kaplingnya. Selanjutnya, rumput laut dijemur sampai kering lalu dijual secara bersama-sama ke pengepul yang datang membeli rumput laut di lokasi. Transaksi semacam ini adalah suatu kemudahan bagi para petani, sebab mereka tidak lagi membutuhkan biaya transportasi untuk akses pasar. Harga rumput laut kering yang ditawarkan pun bersaing yaitu berada pada kisaran Rp20.000 – Rp23.000 per kg. Total uang yang diterima oleh kelompok pada bulan September mencapai Rp13.800.000.

Anggota kelompok tani rumput laut merasa senang dengan pencapaiannya. Rata-rata per anggota menimbang 30 – 50 kg rumput laut kering sehingga uang yang diterima anggota bervariasi mulai dari Rp690.000 – Rp1.150.000. Uang hasil penjualan rumput laut ini digunakan untuk membeli kebutuhan pokok di dalam keluarga seperti membeli beras, gula, sabun serta tabungan untuk biaya anak sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah seorang anggota kelompok sedang menjemur rumput laut dan menimbang rumput laut yang sudah kering.

28/Agustus/2022

Rumah Kelor saat ini menghasilkan produk dengan Brand Mo-Tong berupa Moringa Infusion (teh celup kelor) dan Moringa Powder (serbuk kelor). Kedua jenis produk ini sedang di-orderoleh Pemerintah Provinsi NTT melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda NTT) untuk upaya penanggulangan stunting di NTT.  Sudah tiga bulan belakangan konsumen utama Rumah Kelor adalah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa dan Dekranansda Provinsi NTT.

Nuansa pemberdayaan masayarakat berbasis potensi lokal sangat terasa  di mana bahan mentah berupa daun kelor segar dibeli dari petani kelor di Desa Watowara dan Desa Adabang. Setiap hari masyarakat menjual daun kelor segar ke Rumah Kelor. Setiap harinya Rumah Kelor membutuhkan 45 kg daun segar untuk dimasukan dalam 3 mesin pengering yang berkapasitas masing masing 15 kg. Petani secara bergilir memasok daun kelor segar, dan Rumah Kelor membayar tunai. Setiap kilogram daun kelor segar  dihargai dengan Rp5000. Rata-rata seorang petani atau satu keluarga tani menjual 15 kg. Dengan demikian uang yang diperoleh satu petani/keluarga adalah  sebesar Rp75.000 per hari.

Setiap hari petani/keluarga tani menjual daun kelor segar ke Rumah Kelor dengan jumlah yang disesuaikan dengan kapasitas mesin pengering. Uang hasil jualan daun kelor digunakan untuk membeli beras, gula pasir, kebutuhan sekolah anak dan berbagai kebutuhan keluarga.

Secara pelan namun pasti, sistem kerja mulai dibangun bersama petani di mana anggota men-suplaydaun kelor segar dan Rumah Kelor mengolah daun kelor, mengemas secara baik dan menjual ke Dekranasda Provinsi NTT. Uang hasil penjualan digunakan untuk membeli daun segar dari petani, membayar listrik dan membayar jasa tenaga kerja yang terdiri dari 6 orang (tiga perempuan, tiga laki-laki).

 

Secangkir Mo-Tong Infusion

Subkategori